Kemana Budaya Gotong-Royong?

Sekecil apapun kontribusi pasti bermanfaat bagi orang banyak. Kemana budaya gotong-royong masyarakat kita? Komunitas bukan komoditas, gak semuanya “cocok” dibisnisin.

Apa bener orang kita mau berjuang untuk bangsanya sendiri? Atau cuma baik sama mereka karena prospek bisnis? Pernah ga tau-tau temen yang udah lama gak kontak tiba-tiba kontak taunya nawarin MLM (diprospek)?

Ada acara amal untuk orang yang kurang mampu kemudian ada beberapa sukarelawan yang menawarkan diri untuk mendistribusikan subsidi dari para donatur. Tiba-tiba ada salah seorang sukarelawan mendekati para donatur dan mengatakan bahwa dialah yang paling hebat diantara sukarelawan yang lainnya.

Melihat salah satu sukarelawan mendekati para donatur, sukarelawan lainnya ikut mendekati para donatur tersebut dan mengatakan hal yang sama. Dan begitu seterusnya sampai persaingan diantara sukarelawan ini semakin tidak sehat.

Setelah disiasati, para sukarelawan itu membawa misi yang berbeda. Satu orang dititipi kelompoknya untuk membawa nama kelompoknya sehingga nama kelompoknya tercantum sebagai sukarelawan yang berperan mendistribusikan bantuan untuk orang yang kurang mampu tersebut.

Sukarelawan lainnya melihat bahwa dana yang digelontorkan oleh donatur ini sangat besar, oleh karena itu kelompoknya melihat potensi bahwa dana ini bisa membawa manfaat untuk kelompoknya terlebih dahulu sebelum didistribusikan.

Melihat situasi ini, donatur pun tidak yakin dan akhirnya memutuskan untuk tidak memberikan subsidi tersebut. Hingga waktu yang tidak ditentukan, paling tidak sampai situasi tenang kembali.

Tujuan paling utama sebagai sukarelawan adalah membantu menyalurkan subsidi tersebut ke tangan orang yang berhak menerimanya. Mana yang lebih genting? Misi kelompok atau subsidi yang tidak sampai ke penerimanya?

Masih bisakah masyarakat kita bekerja tanpa pamrih?

Cerita ini bukan cerita sebenarnya, tetapi isinya dipengaruhi sama beberapa event yang terjadi dalam beberapa minggu kebelakang.