Should I Concern on Personal Branding More?

Should I Concern on Personal Branding More?

Since I jump into photography in late of 2013, I watch many famous photographers YouTube channel and I found interesting things they do to their branding, I’ll give one of the examples,¬†Matt Granger with “ThatNikonGuy” branding. If you watch his channel quite a while, then you’ll find¬†this video that declares the branding is dead.

The question is, why would he do that? Even after the branding established and used anywhere including his community (forum) domain. I wonder why he is willing to take the risk to lose his audience by changing the brand? Well, I may experience his consideration today since I’m trying to do a kind of similar thing last year.

I bought few internet domains and focus on different content to serve difference audience. But what happens is that, if I’m the only one who maintains all of this domains, actually I couldn’t focus on any one of it. And I give more confusion to my audience about why suddenly I stop posting about my photography stuff because I posted on another channel for my photography audience.

At first, I thought it’s better to split my audience, i.e. those who are following my blog since 2008, they might know this blog as IT related stuff. But for those who know me since I’m doing photography as my hobby, and those who met me in photography session and discover my websites, they may expect my post related to photography stuff. I thought maybe it would be genius to split my audience to give them the convenience to follow my articles, and I was wrong …

It’s so difficult to maintain what I consider as a “corporate branding” (even though not a corporate yet :-)). I feel that I couldn’t manage all of those brands, and it’s better to focus on personal branding first. I think this is what Matt Granger is doing, instead of keeping his old brand as “ThatNikonGuy”, he is using his personal brand as “Matt Granger” because when the brand succeeds, that is his name. The name sticks to the person and the brand.

As part of 10th Years Anniversary of this blog, I would suspend my other branding and focus back on my personal branding. I would suspend my “Journey Performed” and “Candid of Strangers” project so I can focus on this blog or channel and to concentrate back my audience into one channel. If you’re my follower on that channel, I would slowly move all of those content to one of the section in this blog.

Wish me luck this year and hopefully, I can share more of my experience in the future through this channel.

How To Sell Your Self

How To Sell Your Self

Pada hari Sabtu, 4 Juli 2009, saya menjadi pembicara misterius pada acara seminar Linux di Politeknik Negeri Samarinda. Misterius karena sebenarnya nama saya tidak tercantum dalam agenda acara tersebut. Bahkan di spanduk yang terpampang hanya tercetak dua nama pembicara, tetapi saya bukan salah satunya :D.

Saya memberikan presentasi yang intinya menerangkan bahwa “Linux bukan OS alternatif, tetapi OS pilihan!”. Dan dampak dari acara ini pada akhirnya ada beberapa audience yang bertanya pada saya baik pada acara maupun melalui email dan messenger setelah acara tersebut mengenai banyak hal.

Beberapa hal yang banyak ditanyakan adalah pilihan distro dan development tools untuk programmer di Linux. Kebanyakan dari mereka bertanya mengenai pilihan distro dan IDE yang paling baik digunakan jika mereka beralih ke Linux.

Saya menekankan bahwa baik distro ataupun IDE tersebut, itu hanya sarana untuk mencapai tujuan kita. Saya lebih menyarankan agar mereka mencoba sendiri distro-distro tersebut dan pilihlah yang menurut mereka paling nyaman digunakan. Sedangkan untuk IDE dan development language, saya juga menyarankan mereka untuk mempelajari semua dan pilih yang paling produktif untuk mereka.

Saya juga memberikan penjelasan bahwa, jika kita ingin profesional di bidang yang kita pilih, berarti kita harus fokus. Saya mengkategorikan ada dua kategori pengguna komputer, hobbyst dengan professionalist. Pengkategorian tersebut didasari oleh penilaian saya terhadap dua perilaku pengguna komputer, terutama pengguna Linux.

Contohnya begini, ada beberapa pengguna Linux yang selalu melakukan update OS nya setiap 6 bulan (sesuai dengan jadual release distro). Dalam kurun waktu tersebut, dia selalu melakukan hal yang serupa, mendownload, menginstall, melakukan konfigurasi atau memperbaiki bug yang dia temukan, dsb. Hal ini dia lakukan karena hobi, dia selalu senang untuk mencoba hal-hal yang baru.

Contoh lain, ada pengguna Linux yang menggunakan PC nya untuk produksi. Seperti membuat program, ketikan, desain, dsb. Untuk dia, PC berfungsi sebagai mesin “pencetak uang”, ini yang saya sebut sebagai profesionalist. Lalu apa kaitannya dengan judul artikel ini? Begini, jika anda memilih untuk menjadi pengguna yang kedua (profesionalist), maka hal utama yang harus anda miliki adalah komitmen.

Saya masih ingat dalam proses installasi salah satu distro Linux, saya menemukan line seperti ini “We’re committed to success with Linux”. Hal ini sangat menarik, dan saya sangat setuju. Bahwa untuk sukses dalam bidang ini, modal dasarnya adalah komitmen.

Pemilihan distro dan teknologi bisa menjadi modal kita untuk menjual diri kita. Kita lihat fenomena penjual air mineral berkemasan. Seluruh produsen memiliki modal dasar yang sama, yaitu air. Yang (mungkin) membedakan dari setiap produsen adalah pemilihan teknologi dalam mengolah dan mengemas air tersebut.

Saya pribadi memilih salah satu distro dan teknologi software development tertentu. Dan saya komit dengan pilihan saya. Inilah spesifikasi yang saya miliki untuk menjual diri saya :D.

Ketika saya diberi tawaran untuk mengembangkan sistem di kantor saya sekarang, saya langsung berbicara mengenai hal ini. Saya memberikan penjelasan bahwa, dengan memilih saya, maka saya akan menerapkan teknologi seperti ini.

Ingat, adakalanya apa yang kita tawarkan tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen. Untuk hal ini, dikembalikan pada diri kita sendiri. Apakah kita akan menjual semua “barang/jasa” yang dibutuhkan konsumen atau kita mau fokus untuk hanya menjual “barang/jasa” tersebut.