Pilih Laman
Tidak Semua Programmer Sama

Tidak Semua Programmer Sama

Tunggu Dulu …

Definisi “Programmer” dalam artikel ini bisa  juga mengacu ke “Developer” atau “Software Engineer”. Yes, saya tahu ada banyak artikel diluar sana yang membahas bahwa ketiga istilah itu berbeda, tapi untuk kali ini sebagai syarat untuk meneruskan membaca artikel ini, kita asumsikan saja semua itu sama, OK?!

Lanjut, Tarik Mang!

Kalian pernah gak sih kepikiran atau paling nggak bertanya sama diri sendiri, “Gue programmer tapi kok rasanya gue beda sama temen gue yang sama-sama programmer di kantor?”. Bedanya ini bisa jadi ada yang kesiksa sama deadline, ada yang enjoy sama deadline. Ada lagi yang model geeky misalnya, kalo ngomong gagap tapi otak canggih. Ada yang jago banget tapi kalau diajak atau diminta bantuin bikinin proyekan diluar kantor gak pernah mau padahal di kerjaannya di kantor bagus. Well, kalau kalian pernah ngerasain hal tersebut, artinya sama dengan yang gue alamin. Gue sendiri punya pertanyaan ini sejak lama dan baru ngerti atau dapat jawabannya belum lama.

Mengenal setiap individu di dalam team adalah hal penting ketika kita menjadi seorang team leader. Beruntung bagi saya di pekerjaan saya sebelumnya, saya “dipercaya” perusahaan untuk menjadi “Technical Lead” yang sebenernya kalau di organisasi lebih gede mungkin role saya sama dengan “Engineering Manager”. Karena kepercayaan ini lah, akhirnya saya memiliki pengalaman yang menarik tentang analisa psikologis setiap individu dalam di team saya khususnya di lingkungan programmer atau software development.

Saya kira setiap orang pasti sudah pernah mengikuti test psikologi tentang Dominance, Influence, Steadiness, and Conscientiousness (DISC). Ini merupakan test psikologi pertama yang saya ikuti pertama kali masuk dunia kerja IT pada tahun 2006. Tapi terkadang untuk menterjemahkan hasil test psikologi perlu konsultan atau corporate psikologist yang bisa menjabarkan hasil test karyawan ke HRD di perusahaan kita.

Saya juga pernah ikut test psikologi dari Gallup (Strength Finder) intinya untuk menemukan “Top 5 Strengths” atau “5 Kekuatan Teratas” yang hasil akhirnya seperti pada gambar berikut ini:

Top 5 Strength

Top 5 Strength

Melihat hasil tersebut, saya bersama dengan kolega saya yang lain bertanya-tanya, maksud dari hasil test ini tuh apa sih? Dan HRD perusahaan pun kewalahan untuk menjawabnya. Lucunya, untuk memahami hasil di atas ini, perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya harus mengirim orang HRD nya untuk ikut training (berbayar pula) untuk memahami hasil profil psikologi setiap karyawan di kantor.

VIP24

Diantara banyak macam test psikologi ini, ada satu test psikologi yang menurut saya lebih bagus dan detail, kemudian untuk memahami hasilnya, kita gak perlu sampai harus ikut pelatihan atau bolak-balik bertanya ke konsultannya. Ini juga pertama kalinya saya menerima hasil test psikologis yang mudah dicerna dan dipahami karena hasilnya bukan hanya kesimpulan saja, tetapi juga sangat mendetail. Untuk hasil individu misalnya, setiap orang minimal setidaknya menerima dua lembar halaman A4 yang berisi penjelasan tentang hasil test psikologi yang kita lakukan. Yah, walaupun sebenarnya yang “menyakitkan”  itu adalah pada saat kita mengerjakan testnya. Rasanya ada sekitar lebih dari 40 pertanyaan di 3 halaman yang berbeda. Pertanyaannya sih gak susah, tetapi banyak menyita waktu untuk menjawabnya.

Test psikologi profile yang saya maksud adalah VIP24 dari CXS. Perusahaan CXS ini merupakan perusahaan asal Norwegia, tetapi karena metode yang mereka perkenalkan ini sangat efektif dan saya sendiri merasa hasilnya sangat akurat, akhirnya mereka expansi ke Asia Tenggara dan memindahkan kantor pusatnya ke Singapura. Saya pribadi cukup takjub dengan hasilnya dan untuk hasil test yang saya terima, saya pikir akurasinya kurang lebih diatas 90%.

Pertanyaan yang mereka ajukan dalam test ini sebenarnya sangat simple dan dekat dengan apa yang kita pikirkan sehari-hari. Sebagai contoh:

  1. Seandainya kamu bisa memilih pekerjaan apa saja saat ini mana yang kamu lebih suka, apakah bekerja di bank atau di laboratorium?
  2. Apakah kamu bisa memainkan alat musik? (versi lain pertanyaannya ada juga di bidang melukis, fotografi, dsb)
  3. Seandainya kamu bisa menjadi siapa saja sekarang, apakah kamu memilih menjadi perawat/dokter yang menyelamatkan nyawa orang lain atau kah menjadi pilot yang bisa terbang kemana saja?

Dan begitu seterusnya sampai lebih dari 40 pertanyaan yang harus dijawab dalam kurun waktu kurang lebih 2 jam.

Mereka akan memberikan hasil dari test individu terlebih dahulu dan hasilnya ini diberikan ke setiap orang yang mengikuti test tersebut. Kemudian untuk perusahaan, ada laporan lain yang mereka keluarkan yaitu mengenai dinamika team. Misalnya, di team development ini komposisi orang-orang nya itu gimana sih kalau dipetakan menurut profil psikologinya. Ada juga analisa tentang team dan individual motivation untuk melihat indikasi “kepuasan” setiap individu dalam team.

Kalau penasaran tentang bagaimana contoh hasil test tersebut, berikut saya sharing tentang hasil test saya sendiri:

Mengetahui hasil tersebut dan saya meyakini bahwa sebagian yang ditulis disana benar-benar menggambarkan saya, setidaknya saya merasa lega. Karena untuk menilai diri sendiri itu sangat susah dan seringnya kita berharap kalau orang lain yang bisa mengerti kita. Tapi bagaimana coba cara orang lain bisa paham tentang kita? Apalagi kalau yang dimaksud itu atasan atau bos kita sendiri. Dengan adanya hasil test ini, yang pada itu diikuti oleh seluruh development team, saya setidaknya lega karena pertama, saya bisa “melihat” motivasi, kekuatan dan kelemahan setiap anggota di team saya, dan pada akhirnya kita semua jadi tau kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Kembali ke tema pembahasan artikel ini, yang menarik dari hasil laporan tentang test psikologi ini adalah komposisi team. Salah satunya adalah dengan adanya team map seperti di gambar berikut ini:

Team Map

(nama-nama saya tutup untuk melindungi informasi pribadi mereka)

Jadi berdasarkan penjelasan mereka, orang-orang di group “INSPECTOR” itu adalah orang-orang yang sebenernya punya kriteria yang paling “cocok” untuk pekerjaan programmer. Kalau mau diperluas lagi, paling tidak mereka harus berada di kuadran kiri (lebih ke JUDGING daripada PERCEIVING) karena pekerjaan meraka sehari-hari adalah “exact”. Tapi, ada tapi nya nih … Itu kalau perusahaannya perusahaan IT kebanyakan atau pada umumnya yang sebenernya role programmer atau developer yang diperlukan hanya untuk mengembangkan atau maintenance sistem yang sudah berjalan. Sedangkan untuk tipe perusahaan seperti startup yang banyak ketidakpastian dan perubahan yang sangan cepat, mereka seharusnya hire lebih banyak orang-orang di kuadran kanan.

Itu sebabnya tipe “INSPECTOR” anteng-anteng aja sama deadline,  mereka cenderung stabil dan gak komplen dengan pekerjaan yang sifatnya agak rutin. Saya nebak sih temen-temen saya dulu waktu ngerjain sistem perbankan dan sampai sekarang masih berkutat disana kemungkinan mereka tipe “INSPECTOR” juga.  Jangan salah, mereka ini sebenernya jago-jago (ahli) tapi begitu orang seperti saya misalnya ngajak mereka untuk ngerjain kerjaan diluar yang rutinitas mereka, entah itu ngerjain proyek sampingan kah atau memang ada proyek hobi yang mau dibuat, biasanya mereka gak mau. Akhirnya sekarang saya tau kalau saya ngomong ke orang yang salah, harusnya saya banyak ngomongnya ke orang-orang di kuadran kanan.

Reaksi saya pertama kali melihat diagram ini adalah dalam hati saya berpikir, pantas saja saya merasa cara atau pola berpikir saya dan bagaimana cara saya memproses informasi itu berbeda dengan kebanyakan kolega saya (yang kebanyakan tipenya INSPECTOR dan berada di kuadran kiri). Dari sana saya tahu dan menyadari bahwa memang setiap programmer itu berbeda karena namanya manusia, tidak terlepas dari faktor psikologis yang membuatnya unik dalam profesi apapun. Tetapi, sangat menarik bahwa sebenarnya kalau kita menyadari hal ini lebih awal atau ada satu cara yang lebih efektif dan praktis dan murah (karena test ini biayanya cukup mahal), mungkin kita bisa menciptakan lingkungan atau dunia kerja yang lebih harmonis.

 

Pemilihan Umum 2019 di Kuala Lumpur

Pemilihan Umum 2019 di Kuala Lumpur

Dari rumah, saya dan istri siap berangkat ke TPS untuk menunaikan kewajiban sebagai Warga Negara Indonesia yang baik. Yaitu memilih perwakilan rakyat yang akan duduk di DPR RI dan memilih Presiden periode berikutnya.

Saya dan istri sudah memiliki pilihan partai dan capres-cawapres, tapi begitu sampai bilik suara, tanpa janjian, pilihan partai kita berubah, kalo capres-cawapresnya sih tetep.

Masalahnya adalah, kebanyakan caleg-caleg ini kita gak kenal. Sulit sekali untuk memilih hanya berdasarkan nama (dan wajah). Apa ideologinya, bagaimana pola pikirnya, bagaimana cara dia merespon situasi yang terjadi di Indonesia atau mungkin dunia.

Jujurnya kalau artis (apalagi masih laku), persepsi saya selalu gini: “Ah ini mah cuma buat narik suara doang, kerjanya belum tentu bener” atau “Lah, lu kan masih laku, masih bisa cari duit dari manggung, kasih kesempatan buat yang laen lah”

Ini adalah pentingnya punya “sosial media”, setidaknya untuk pejabat publik atau calon legislatif. Karena gini, ada beberapa tokoh yang aktif di pemerintahan yang saya follow di Twitter dan saya suka pola pikirnya.

Dari rumah saya gak tau sebenernya daftar yang bakal terpampang di surat suara untuk DPR. Begitu saya terima surat suaranya, beberapa orang yang saya tau dari sosial media itu kebanyakan gak disana (karena berbeda dapil).

Cuma ada satu orang saja yang saya kenal dan saya follow di Twitter dan akhirnya beliau lah yang saya pilih, padahal beliau dari partai yang berbeda dengan “preferensi” pilihan partai awal saya.

Disini saya menekankan bahwa saya tidak memiliki fanatisme terhadap partai atau tokoh secara pribadi, tetapi cara berpikir, cara merespon, program dan eksistensi dia di publik itu lah yang menurut saya faktor paling penting dalam menentukan pilihan saya …

Pin It on Pinterest