Backup dan Restore Software Yang Terpasang

Backup dan Restore Software Yang Terpasang

Backup Software Yang Terpasang

Distro Basis Debian

Untuk memperoleh daftar software yang terpasang, menggunakan perintah:

$ dpkg --get-selections

Untuk menyimpan daftar tersebut ke sebuah file sebagai contoh pada folder “/Tujuan/Backup/software-terpasang.log”, gunakan perintah:

$ dpkg --get-selections > /Tujuan/Backup/software-terpasang.log

Distro Basis RPM

Untuk memperoleh daftar software yang terpasang, menggunakan perintah:

$ rpm -qa

Untuk menyimpan daftar tersebut ke sebuah file sebagai contoh pada folder “/Tujuan/Backup/software-terpasang.log”, gunakan perintah:

$ rpm -qa > /Tujuan/Backup/software-terpasang.log

Restore Software Yang Terpasang

Distro Basis Debian

Untuk menginstall kembali software yang terpasang dari daftar yang sudah tersimpan di “/Tujuan/Backup/software-terpasang.log”, gunakan perintah:

# dpkg --set-selections < "/Tujuan/Backup/software-terpasang.log"

Setelah daftar diimport, gunakan dselect atau tools lain untuk menginstall paket. Jika menggunakan dselect, jalankan dengan perintah:

# dselect

Kemudian pilih ‘i’ untuk menginstall software.

Distro Basis RPM

Untuk menginstall kembali software yang terpasang dari daftar yang sudah tersimpan di “/Tujuan/Backup/software-terpasang.log”, gunakan perintah:

# yum -y install $(cat /Tujuan/Backup/software-terpasang.log)

Artikel diambil dari sini. Selamat Mencoba!

Elantech Touchpad Fedora 11

Elantech Touchpad Fedora 11

Jika notebook anda menggunakan Fedora 11 dan kebetulan touchpad yang anda gunakan dari Elantech, tentunya secara default anda akan kehilangan fungsi tap pada touchpad anda. Artinya, anda harus menggunakan “Physical Button” (yang ada dibawah touchpad) untuk melakukan klik.

Bagi saya yang sudah terbiasa menggunakan touchpad sehari-hari, hal ini sungguh merepotkan, bahkan ketika menggunakan Fedora 10, saya hampir tidak pernah menyentuh Physical Button tersebut.

Beberapa user melaporkan hal ini sebagai bug, padahal ini hanya masalah konfigurasi saja. Pada Fedora 11, konfigurasi touchpad terdapat pada System -> Preferences -> Mouse. Kemudian pilih tab Touchpad.

Pada layar konfigurasi yang tampil, centang pilihan: “Enable mouse clicks with touchpad”

Tanpa harus melakukan restart, saat ini seharusnya touchpad anda sudah dapat digunakan. Konfigurasi standard tap touchpad ini adalah sebagai berikut:

  1. Tap satu jari untuk klik kiri
  2. Tap dua jari untuk klik kanan
  3. Tap tiga jari untuk double klik

Opsi lain yang saya aktifkan dan juga membantu adalah:

  1. Disable touchpad while typing: Hal ini berguna untuk menghindari perpindahan kursor gara-gara touchpad tersentuh secara tidak sengaja ketika mengetik.
  2. Enable horizontal scrolling: Untuk mengaktifkan scroll horizontal.

Sedangkan untuk pilihan scrollingnya sendiri, saya menggunakan “Two-finger scrolling” agar saya bebas melakukan scroll pada bagian touchpad manapun dengan kedua jari saya.

Selamat mencoba!

Menanti Implementasi Delta Debian

Menanti Implementasi Delta Debian

Satu hal yang menjadi pilihan utama saya menggunakan distro GNU/Linux yang berbasis RPM adalah ketersediaan paket Delta RPM untuk menghemat bandwidth ketika melakukan update.

Dalam pencarian menggunakan kata kunci “Delta Debian”, saya tertarik membaca artikel lama (14 Oktober 2006) tentang hasil test implementasi konsep paket Debian delta dengan menggunakan xdelta.

Pada distro Linux berbasis RPM, hal ini diakomodir oleh paket deltarpm. Meskipun sebenarnya bisa juga menggunakan xdelta. Sebagai contoh bisa kita lihat dari hasil update sistem operasi Fedora 11 pada notebook saya hari ini:

(64/66): tar-1.22-2.fc11_1.22-3.fc11.i586.drpm | 320 kB 00:14
(65/66): xorg-x11-proto-devel-7.4-14.fc11_7.4-15.fc11.no | 39 kB 00:06
(66/66): xorg-x11-xinit-1.0.9-7.fc11_1.0.9-9.fc11.i586.d | 23 kB 00:03
Finishing rebuild of rpms, from deltarpms
<delta rebuild> | 189 MB 00:01
Presto reduced the updates to 20 M from 189 M which is a 90% savings.
Package(s) data still to download: 75 k
evolution-perl-2.26.3-1.fc11.i586.rpm | 75 kB 00:05

Pada contoh dapat dilihat bahwa dari 67 paket update sebesar 189 MB, 66 diantaranya berupa update dalam bentuk deltarpm. Sisanya (hanya 1 paket) didownload dalam paket utuh tetapi hanya sebesar 75 kB saja.

Sehingga total bandwidth yang dihemat adalah sekitar 90%, karena keseluruhan proses ini pada akhirnya hanya perlu mendownload paket sebesar 20 MB saja.

Contoh tabel perbandingannya adalah sebagai berikut:

Ukuran Paket Asli

java-1.6.0-openjdk i586 1:1.6.0.0-24.b16.fc11 updates 32 M
java-1.6.0-openjdk-demo i586 1:1.6.0.0-24.b16.fc11 updates 2.2 M
java-1.6.0-openjdk-devel i586 1:1.6.0.0-24.b16.fc11 updates 13 M
java-1.6.0-openjdk-javadoc i586 1:1.6.0.0-24.b16.fc11 updates 20 M
java-1.6.0-openjdk-plugin i586 1:1.6.0.0-24.b16.fc11 updates 104 k
java-1.6.0-openjdk-src i586 1:1.6.0.0-24.b16.fc11 updates 25 M

Ukuran Paket Delta

(23/66): java-1.6.0-openjdk-1.6.0.0-22.b16.fc11_1.6.0.0- | 446 kB 00:21
(24/66): java-1.6.0-openjdk-demo-1.6.0.0-22.b16.fc11_1.6 | 99 kB 00:39
(25/66): java-1.6.0-openjdk-devel-1.6.0.0-22.b16.fc11_1. | 130 kB 00:14
(26/66): java-1.6.0-openjdk-javadoc-1.6.0.0-22.b16.fc11_ | 232 kB 01:57
(27/66): java-1.6.0-openjdk-plugin-1.6.0.0-22.b16.fc11_1 | 40 kB 00:08
(28/66): java-1.6.0-openjdk-src-1.6.0.0-22.b16.fc11_1.6. | 503 kB 00:21

Jika hal ini sudah diimplementasikan pada distro berbasis Debian, dalam arti sudah banyak repository Debian yang mendukung delta Debian, tentunya akan sangat berguna bagi komunitas distro Linux berbasis Debian, termasuk Ubuntu di Indonesia. Terlebih lagi dengan karakteristik koneksi internet seperti sekarang ini.

Pada distro Linux Fedora 11, seluruh repo yang tersedia sudah otomatis mendukung deltarpm. Namun untuk menggunakan fasilitas ini, tetap membutuhkan plugin yum-presto.

Upgrade Ke Fedora 11

Upgrade Ke Fedora 11

Beberapa waktu ini kesibukan saya di kantor meningkat, bahkan hampir tidak sempat ‘menjenguk’ blog dan layanan social network saya. Padahal banyak sekali hal yang ingin saya tuangkan di blog ini, termasuk pengalaman saya bermigrasi ke Fedora 11.

Seperti kebiasaan-kebiasaan saya sebelumnya, berikut ini saya akan laporkan pengalaman saya melakukan upgrade dari Fedora 10 ke Fedora 11.

Pendahuluan

Jika anda pengguna versi Fedora sebelumnya, anda saya sarankan untuk melakukan clean install daripada melakukan upgrade. Walaupun pada situs resminya disebutkan bahwa proses upgrade dari Fedora 10 ke Fedora 11 bisa dilakukan, namun berdasarkan analisa saya hal ini akan menjadi tidak optimal.

Alasannya, pertama adalah masalah file system. Jika anda melakukan clean install, anda dapat langsung mengaktifkan file system ext4 tanpa harus repot-repot melakukan konversi. Satu hal yang menarik lainnya adalah LVM (Logical Volume Manager) pada Fedora 11 dibuat seperti partisi RAID dengan dmraid. Dan hal ini berbeda dengan Fedora 10.

Kedua, dengan melakukan clean install, anda bisa membuktikan performa terbaik Fedora 11 anda. Saya sendiri ingin sekali membuktikan “20 Second Boot” yang digembar-gemborkan dari awal pengembangan Fedora 11. Dan hal ini tentunya akan sulit dibuktikan jika sistem anda sudah tidak clean lagi oleh banyaknya modifikasi konfigurasi yang anda lakukan sebelumnya.

Catatan Migrasi

Hal pertama yang saya lakukan setelah proses install Fedora 11 dari LiveCD, saya langsung memasang stopwatch untuk menghitung lama proses booting hingga masuk ke layar login. Dan ternyata tim Fedora 11 dapat memenuhi janjinya dengan membuktikan bahwa proses booting ini hanya memakan waktu sekitar 20 detik (30 detik jika anda mengaktifkan service httpd, mysql dan wine pada chkconfig).

Kedua, saya sudah menunggu begitu lama untuk mencicipi DRI2 pada onboard VGA Intel 945 di notebook saya. Dan hasilnya, ternyata tidak mengecewakan walaupun performanya menurun drastis.

Jendela glxgears dapat berputar mengikuti cube (Compiz) di onboard VGA Intel 945. Namun demikian saya tidak terlalu membutuhkan 3D dalam ruang lingkup pekerjaan saya, jadi hal ini tidak terlalu terlalu saya permasalahkan. Saya segera mematikan Compiz setelah melakukan uji coba ini.

Tidak lupa saya segera melakukan konfigurasi yum repositories ke mirror lokal dan mencoba melakukan update system. Ternyata benar, bahwa saat ini repository Fedora 11 sudah secara default menyediakan presto repositories. Tapi jika anda menginstall Fedora 11 dari LiveCD, anda harus menginstall plugin yum-presto terlebih dahulu.

Presto dapat secara signifikan menghemat bandwidth anda ketika mengupdate system karena presto hanya mendownload perbedaan paket lama dengan paket baru yang terpasang pada system anda.

Perubahan lainnya yang cukup signifikan dari Fedora 11 adalah Mixer yang default digunakan kali ini bukan lagi ALSA Mixer, tetapi sudah langsung menggunakan PulseAudio Mixer yang sebenarnya lebih mereporkan. Saya sampai saat ini sering kali mengalami kasus yang aneh karena kadang-kadang volume suara berubah-rubah sendiri.

Dukungan Hardware

Jika anda pengguna wireless adapter Atheros dengan driver MadWifi, anda harus sedikit kecewa karena direlease Fedora 11 ini rpmfusion hingga tulisan ini dibuat belum menyediakan paket kmod-madwifi. Namun demikian sebenarnya kernel module ath5k standard bawaan Fedora 11 sudah dapat menjalankan tugasnya dengan baik, hanya saja masih saya menginginkan driver MadWifi karena lampu indikator WiFi nya bisa diaktifkan :p. Jadi solusinya compile driver sendiri dan blacklist kernel module ath5k.

Webcam microdia di laptop saya berfungsi dengan baik dengan menggunakan driver terbaru dari group microdia. Bahkan resolusi maksimal 1280×1024 (1.3 MP) bisa tercapai dengan menggunakan aplikasi Cheese.

Pengembang kernel module microdia menyertakan script untuk membungkus module ini kedalam akmods. Sehingga anda tidak perlu melakukan compile ulang module secara manual setelah anda mengupgrade kernel anda.

Untuk TV-Tuner Gadmei UTV-330+ yang saya miliki, saya agak kesulitan mencari drivernya. Pengembang drivernya menutup sementara akses ke source driver ini karena sedang dilakukan proses refactoring. Dan karena dia juga ternyata orang sibuk, jadinya kemungkinan ketersediaan driver ini kembali akan cukup lama.

Beruntung saya menemukan driver terakhirnya di komunitas Arch Linux beserta patch yang diperlukan agar driver ini bisa dicompile di kernel 2.6.29.x sampai kernel 2.6.30.x.

Stabilitas Sistem

Jujur, sampe tulisan ini dibuat sistem saya masih belum stabil. Paling parah notebook saya sampai mati sendiri beberapa kali secara tiba-tiba ketika saya sedang bekerja. Setelah dianalisa, ternyata permasalahannya berasal dari suhu processor.

Notebook saya menggunakan processor Intel Celeron dan mainboardnya memiliki mekanisme proteksi jika suhu processor overheat, maka mainboard akan melakukan shutdown paksa. Saya menganalisa hal ini dengan memeriksa suhu fisik processor yang saya rasakan tidak wajar.

Setelah kejadian ini berulang kali, akhirnya saya buka casing penutup processor dan saya biarkan hingga suhunya menurun. Baru setelah itu saya coba nyalakan kembali notebook saya dan ternyata tidak masalah.

Saya mengakali situasi ini dengan mengaktifkan processor frequency scaling untuk processor Intel Celeron yang akhirnya bisa digunakan di Fedora 11 (pada Fedora 10 hal ini tidak dapat dilakukan). Saya sendiri masih mencari penyebab pasti kenapa CPU bisa sampai overheat di Fedora 11. Jika dipantau menggunakan aplikasi powertop, memang kernel Fedora 11 sendiri yang membebani CPU tertinggi.

Kesimpulan Umum

Untuk saya pribadi, saya cukup puas menggunakan Fedora 11. Walaupun ada beberapa kekhawatiran yang saya temukan seperti kasus-kasus diatas. Tapi saya yakin bahwa didunia open source segala bug dan fixes bisa ditemukan dan diperbaiki dengan cepat.

Fedora Directory Server

Saat ini, Fedora Directory Server (FDS) adalah aplikasi open source yang paling membuat saya takjub. Diantara jajaran aplikasi-aplikasi open source terbaik, menurut saya FDS (beserta OpenLDAP) pantas mendapat predikat tersebut.
Salah satu fitur Windows Server yang paling menarik menurut saya adalah Active Directory, terutama Login Server untuk Single Sign On (SSO). Saya tadinya berpikir bahwa fitur ini adalah fitur bawaan Windows dan hanya dapat digunakan didalam jaringan Windows.

Saya sebelumnya pernah mendengar OpenLDAP, namun tidak begitu memahami fungsinya. Bayangan saya, fungsi LDAP ini mirip dengan fungsi Active Directory di Windows, tetapi khusus untuk variant Unix saja, tidak untuk melayani client Windows.
Rasa penasaran saya timbul setelah saya menemukan buku yang membahas mengenai Fedora Directory Server (FDS) di Gramedia, ternyata FDS merupakan perluasan dari OpenLDAP terutama untuk fungsi replikasi multimaster.
Ya, FDS memang berbasis OpenLDAP, namun fitur yang ditawarkannya cukup berarti karena FDS menyertakan management console berbasis JAVA.
Implementasinya cukup menyulitkan untuk pemula seperti saya, terlebih lagi tutorial yang disertakan dalam buku tersebut sudah tidak up to date karena sebenarnya dengan versi terbaru saat ini, konfigurasi dari FDS tidak sesulit yang tertulis, karena hampir 80% pekerjaan sudah dihandle oleh script yang disertakan dalam paket smbldap-tools.
Agar FDS dapat melayani client Windows, dibutuhkan service Samba yang dikonfigurasi menjadi Primary Domain Controller (PDC). Jika anda pernah menjadi administrator jaringan Windows, istilah ini tentunya sudah tidak asing lagi. Samba di Linux dapat dikonfigurasi sebagai PDC dan BDC (Backup Domain Controller).
Kesulitan terbesar yang dihadapi adalah tahap dimana kita harus mengkonfigurasi lokasi home directory dan roaming profiles untuk setiap user. Terlebih dengan tetap membiarkan SE Linux dan Firewall aktif pada Fedora 10 yang saya gunakan.
Sedangkan rasa takjub saya timbul, ketika saya berhasil melakukan join domain dari client Windows ke FDS yang baru saya buat dan kemudian mencoba melakukan login dengan user-user yang terdaftar pada Directory Server tanpa masalah.