Fedora Directory Server

Saat ini, Fedora Directory Server (FDS) adalah aplikasi open source yang paling membuat saya takjub. Diantara jajaran aplikasi-aplikasi open source terbaik, menurut saya FDS (beserta OpenLDAP) pantas mendapat predikat tersebut.
Salah satu fitur Windows Server yang paling menarik menurut saya adalah Active Directory, terutama Login Server untuk Single Sign On (SSO). Saya tadinya berpikir bahwa fitur ini adalah fitur bawaan Windows dan hanya dapat digunakan didalam jaringan Windows.

Saya sebelumnya pernah mendengar OpenLDAP, namun tidak begitu memahami fungsinya. Bayangan saya, fungsi LDAP ini mirip dengan fungsi Active Directory di Windows, tetapi khusus untuk variant Unix saja, tidak untuk melayani client Windows.
Rasa penasaran saya timbul setelah saya menemukan buku yang membahas mengenai Fedora Directory Server (FDS) di Gramedia, ternyata FDS merupakan perluasan dari OpenLDAP terutama untuk fungsi replikasi multimaster.
Ya, FDS memang berbasis OpenLDAP, namun fitur yang ditawarkannya cukup berarti karena FDS menyertakan management console berbasis JAVA.
Implementasinya cukup menyulitkan untuk pemula seperti saya, terlebih lagi tutorial yang disertakan dalam buku tersebut sudah tidak up to date karena sebenarnya dengan versi terbaru saat ini, konfigurasi dari FDS tidak sesulit yang tertulis, karena hampir 80% pekerjaan sudah dihandle oleh script yang disertakan dalam paket smbldap-tools.
Agar FDS dapat melayani client Windows, dibutuhkan service Samba yang dikonfigurasi menjadi Primary Domain Controller (PDC). Jika anda pernah menjadi administrator jaringan Windows, istilah ini tentunya sudah tidak asing lagi. Samba di Linux dapat dikonfigurasi sebagai PDC dan BDC (Backup Domain Controller).
Kesulitan terbesar yang dihadapi adalah tahap dimana kita harus mengkonfigurasi lokasi home directory dan roaming profiles untuk setiap user. Terlebih dengan tetap membiarkan SE Linux dan Firewall aktif pada Fedora 10 yang saya gunakan.
Sedangkan rasa takjub saya timbul, ketika saya berhasil melakukan join domain dari client Windows ke FDS yang baru saya buat dan kemudian mencoba melakukan login dengan user-user yang terdaftar pada Directory Server tanpa masalah.

NVRaid -> dmraid = fakeRAID!

Kronologisnya begini, kantor saya salah beli server untuk project di salah satu gedung pemerintahan di Kaltim. Gak tanggung-tanggung, belinya tiga unit dan pada akhirnya spek yang ditawarkan kantor direject. Kejadiannya sih sebelum saya gabung di kantor ini, jadi saya belum terlibat dalam pemilihan spek ketiga server tersebut.
Server yang dimaksud adalah HP Proliant ML115. Yup, anda dapat menduga kenapa spek server ini direject. Yang pasti spek standardnya memang kurang memenuhi persyaratan untuk penggunaan tingkat menengah keatas (beban tinggi).

Pada akhirnya yang kembali ke kantor ada dua unit server, karena yang satu unit ternyata terjual di lokasi project. Dan kesimpulannya perusahaan menginstruksikan agar kedua server ini bisa digunakan.
Saya berinisiatif untuk menggabungkan RAM dan Harddisk kedua server tersebut ke satu server saja dan satu lagi akan digunakan untuk cadangan (sparepart) saja. Hasilnya, meskipun keduanya sudah digabung, spek server ini hanya menghasilkan sebuah server dengan RAM 1 GB DDR 2 ECC dan Harddisk 160 GB (2x 160GB RAID 1).
Syukurnya Permintaan Barang (PB) untuk mengoptimalkan server ini disetujui. Dan tadi pagi, akhirnya datang juga pesanan 2 unit Harddisk 500 GB dan 2 pcs RAM DDR2 ECC masing-masing 2 GB. Sehingga spek server ini sekarang menggunakan total 5 GB RAM DDR 2 ECC dan 660 GB Harddisk (2 x 160 GB plus 2 x 500 GB yang baru).
Sebelumnya di server ini sudah terpasang sistem operasi Fedora 10 pada harddisk yang dikonfigurasi RAID 1 melalui BIOS. Chipset server ini keluaran nVidia, begitu juga dengan RAID controllernya (NVRaid). Namun dari beberapa referensi yang saya dapat, NVRaid ini ternyata Software RAID atau biasa juga disebut dengan fakeRAID. Jika ini memang RAID Software, maka tidak ada bedanya dengan jika kita menggunakan mdadm.
Untuk sistem RAID semacam ini, baik yang disediakan oleh nVidia maupun yang terdapat pada mainboard Intel, software RAID managementnya bisa menggunakan dmraid. Sudah default terinstall pada sistem operasi Fedora 10.
Saya tidak memiliki masalah untuk melakukan installasi Fedora 10 dengan konfigurasi RAID 1 melalui BIOS untuk array yang pertama (2 x 160 GB). Sistem operasi Fedora dapat mengenali device mapper untuk NVRaid tersebut, melakukan installasi diatasnya dan GRUB pun sukses melakukan booting dari konfigurasi tersebut.
Nah, masalahnya timbul ketika saya memasang harddisk yang baru untuk array kedua (2 x 500 GB). Jika saya menggunakan konfigurasi dari BIOS, saya hanya berhasil melakukan konfigurasi hingga device mapper array kedua dikenali oleh sistem, namun ketika akan saya tambahkan ke LVM, konfigurasi array kedua tidak dikenali.
Dalam beberapa referensi juga disebutkan bahwa dmraid ini masih belum ‘nyambung’ dengan pvcreate (tools LVM untuk menambah Physical Drive). Dan saya sendiri sudah putus asa karena sulit sekali menemukan referensi di internet yang kondisinya sama dengan apa yang saya hadapi.
Bahkan sampai dengan akhirnya saya putuskan untuk menginstall ulang server ini (karena belum production), saya juga menemukan masalah lainnya. Jika konfigurasi yang sekarang ini (2 array) saya gunakan untuk menjalankan installasi Fedora 10, maka installasi akan berhenti pada bagian pengaturan partisi. Tetapi jika hanya menggunakan 1 array saja, installasi dapat terus lanjut hingga selesai.
Saya belum bisa menyimpulkan dari mana akar permasalahan masalah ini. Yang jelas NVRaid dengan dmraidnya ternyata belum berjalan mulus. Ketika saya pulang ke rumah dan kembali membaca tulisan Kang Onno, saya temukan bahwa pengalaman beliau pun lebih mudah menggunakan Software RAID (dengan mdadm) daripada menggunakan RAID bawaan mainboard.
Jadi rencana saya, hari Senin besok saya akan buat konfigurasi server itu menjadi seperti ini. 1 Array (2 x 160 GB) akan saya konfigurasi melalui BIOS dan hanya digunakan untuk sistem operasi, swap, squid cache plus data-data lain yang tidak crusial. Sedangkan 1 array lainnya (2 x 500 GB) akan saya konfigurasi menggunakan mdadm yang menurut perkiraan saya seharusnya lebih kompatibel dengan LVM.
Pertimbangan ini juga didasari dengan kemudahan dalam hal melakukan manage data yang crusial dan monitoring kondisi harddisk dikemudian hari.

Konversi Ke Ext4 Bikin Mules

Mules? Bukan mules sebenarnya, maksudnya seperti mules yang dirasakan dalam kondisi panik :D. Kenapa? Karena saya memang sangat panik! Gara-gara thread ini, saya jadi penasaran untuk langsung nekat mencoba filesystem Ext4 di installasi Fedora 10 saya.
Posting ini juga sekaligus sebagai konfirmasi bahwa Fedora 10 dapat menggunakan filesystem Ext4 dan proses konversi dari filesystem Ext3 juga relatif aman (walaupun ada efek samping “mules” tadi).

Ukuran harddisk saya adalah 80 GB. Dengan menggunakan default installasi Fedora 10, struktur harddisk saya menjadi seperti ini:
  1. /boot sekitar 190 MB dengan filesystem Ext3, sisanya jadi LVM.
  2. Pada LVM, /swap mengambil 3.94 GB dan sisanya / (root).
Nah, proses konversi yang saya lakukan adalah mengubah / (root) dari filesystem Ext3 ke filesystem Ext4. Dengan kondisi, saya tidak memiliki media apapun untuk membackup sekitar 47 GB data di harddisk saya. (Sekarang agak kebayang kan sebab mulesnya :p)
Langkah konversi saya ambil dari sini dan hal yang pertama saya lakukan adalah menjalankan perintah berikut:

# tune2fs -O extents,uninit_bg,dir_index /dev/DEV

Sebagai contoh dalam kasus saya, saya mengetikkan perintah berikut:

# tune2fs -O extents,uninit_bg,dir_index /dev/VolGroup00/LogVol00

Langkah ini sukses saya lalui. Setelah proses ini selesai, instruksi selanjutnya adalah memperbaiki struktur harddisk yang telah diubah dengan perintah:

# e2fsck -fD /dev/DEV

Dalam contoh saya, saya menggunakan perintah:

# e2fsck -fD /dev/VolGroup00/LogVol00

Dalam proses ini di layar saya keluar peringatan (warning) yang intinya jika anda menjalankan perintah ini dalam kondisi harddisk di mount, akan terjadi kerusakan data yang serius.

Dengan polosnya saya restart komputer, dan akhirnya komputer saya tidak bisa booting. (Nah, disini mulesnya kambuh :D)
Singkat cerita, akhirnya setelah seluruh cara recovery dilakukan, saya bisa membuat Fedora 10 saya melakukan booting dari filesystem Ext4.
Saya juga bisa menarik kesimpulan dari kasus diatas sebagai berikut:
  1. Untuk saat ini, biarkan partisi /boot menggunakan filesystem Ext3, karena versi GRUB yang banyak digunakan saat ini belum mendukung filesystem Ext4. Menurut referensi, perkembangan GRUB 2 Beta saat ini sudah mendukung filesystem Ext4.
  2. / (root) aman dikonversi ke Ext4, tetapi harap berhati-hati dalam menjalankan langkah konversinya.
Berdasarkan analisa saya, langkah awal konversi seharusnya adalah mengubah isi /etc/fstab agar melakukan mount filesystem yang akan kita konversi menjadi Ext4. dalam contoh saya, isi file /etc/fstab saya adalah sebagai berikut:

/dev/VolGroup00/LogVol00 / ext4 defaults 1 1
UUID=e1b920dd-a43e-483e-b40d-6e57156913cd /boot ext3 defaults 1 2

Selanjutnya segera generate initrd agar mendukung Ext4 dalam proses booting selanjutnya dengan perintah:

# mv /boot/initrd-`uname -r`.img /boot/initrd-`uname -r`.img.old

# mkinitrd --with=ext4 /boot/initrd-`uname -r`.img `uname -r`

Setelah sukses memperoleh initrd yang sudah mendukung Ext4 dalam langkah diatas, barulah proses konversi pada bagian awal artikel tadi dilakukan.

Namun demikian, saya menyarankan agar proses tersebut dilakukan dari LiveUSB atau Rescue mode agar filesystem yang dikonversi tidak dalam kondisi sedang aktif (di mount).
Jika anda penasaran berapa lama proses yang saya lakukan untuk konversi ini (beserta segala kepanikannya :p), anda dapat mengukur waktu dari saya membalas thread diatas hingga terbitnya posting ini dikurangi perkiraan berapa lama saya menulis artikel ini :D.
Rosegarden & SoundFont = Mantaps!

Rosegarden & SoundFont = Mantaps!

Saya adalah pecinta musik, setelah merasa diri gagal dalam jalur sebagai musisi :p akhirnya saya banting setir menjadi pekerja IT. Ketika SMA saya senang membuat komposisi musik dengan menggunakan aplikasi Cakewalk di Windows.

Karena saya tidak memiliki sound card yang SoundFont capable seperti produk dari Creative atau TurtleBeach, saya tidak bisa mencicipi fasilitas SoundFont. Jadi pada saat itu saya membuat komposisi dengan menggunakan Software Synthesizer Yamaha SYXG50.

Saya sebenarnya sudah mengenal Rosegarden sejak saya mengenal Linux. Tentunya ketika mulai migrasi ke Linux, dulu saya juga mencari aplikasi yang sama dengan Cakewalk untuk membuat komposisi musik. Namun pada saat itu saya belum terlalu mengeksplorasi lebih lanjut bidang ini.
Berbekal informasi bahwa di Linux kita bisa menggunakan SoundFont seperti Software Synthesizer dengan FluidSynth, akhirnya saya mencoba mencari tahu bagaimana cara melakukan konfigurasi FluidSynth sehingga bisa digunakan oleh Rosegarden untuk memanfaatkan bank suara dari file-file SoundFont.

Gambar 1

Stack aplikasi (seperti pada Gambar 1) yang saya gunakan adalah JACK Audio Connection, FluidSynth dengan menggunakan interface QSynth dan file SoundFont. Sehingga, sebelum aplikasi Rosegarden dijalankan, seluruh service dan aplikasi ini harus jalan terlebih dahulu.

QSynth menyediakan fasilitas untuk manajemen file-file SoundFont secara langsung (Gambar 2). Anda dapat menentukan sendiri prioritas file SoundFont mana yang diinginkan untuk diload.

Gambar 2

Setelah semua ok, kita tinggal jalankan Rosegarden. Dalam preview berikut (Gambar 3), saya menggunakan file MIDI “Negeri Diawan – Katon Bagaskara” yang saya ambil dari situs Harodilia.

Gambar 3

Rosegarden membutuhkan aplikasi LilyPond untuk melakukan pengeditan note balok seperti pada gambar diatas.
Dengan demikian bagi anda yang berprofesi sebagai musisi, anda tidak perlu khawatir dengan kemampuan Multimedia di Linux sekarang ini.
MySQL Workbench OSS

MySQL Workbench OSS

Kabar baik untuk pengguna Database MySQL!
MySQL Workbench | Visual Database Design For Professionals, Version 5.1.9 Beta OSS Community Edition, kini sudah tersedia untuk didownload.

Sebelumnya saya pernah menyinggung tool ini yang sudah tersedia secara default pada repository openSUSE 11.1.

Untuk pengguna Linux distro selain openSUSE 11.1 jangan khawatir, karena sekarang MySQL sudah menyediakan release binary tool ini (sebelumnya hanya release source yang harus dicompile sendiri :p) untuk semua distro.
Untuk informasi lebih lanjut dan link download, silahkan kunjungi link ini.