Review LG Vortex VS660 (Android CDMA)

Review LG Vortex VS660 (Android CDMA)

Kali ini mungkin terbalik, biasanya saya buat review dulu sebelum saya rilis Custom ROM untuk handset saya :-). Itu terjadi karena saya sangat interested dengan Android CDMA yang satu ini.

Awalnya berbekal keinginan saya untuk memiliki handset Android namun yang berbasis CDMA. Kenapa harus Android dan kenapa CDMA?

Menurut saya Android (atau iPhone) ini seperti mainan mahal :-p. Mungkin lebih banyak dipake main-mainnya daripada dipake untuk menelepon atau SMS. Disisi lain, saya juga memiliki sebuah Fixed Wireless terminal untuk nomor CDMA yang saya gunakan disamping nomor GSM saya.

Flexi CDMA

Singkat ceritanya seperti pada gambar, saya perlu handset untuk menggantikan handset di sebelah kiri 🙂 tetapi sekaligus bisa dipakai untuk entertainment diwaktu senggang (karena nomor CDMA saya tidak seaktif nomor GSM saya).

Terimakasih kepada huroncom di KASKUS akhirnya kebutuhan saya terpenuhi. Pada awalnya memang saya mencari LG Optimus S (Sprint) dengan alasan ketersediaan Custom ROM untuk handset tersebut sudah banyak. Tetapi karena yang tersedia pada saat itu hanya LG Vortex (Verizon) saya pikir tidak begitu masalah karena pada dasarnya dari sisi hardware, seri LG Optimus ini memiliki hardware yang mirip.

Untuk kelas Mid-End, seri LG Optimus baik untuk GSM maupun CDMA merupakan pilihan yang bijak. Dengan harga yang relatif dibawah pesaingnya, kita disuguhkan spesifikasi hardware yang memadai. Walaupun clock processor hanya 600 MHz, tapi dengan kekuatan Adreno 200 GPU, game-game 3D bisa dijalankan dengan mulus.

Bahkan processor ini “mampu” dioverclock dengan stabil menggunakan custom kernel. Dengan sedikit dioverclock ke 768 MHz saja, Quadrant Scorenya mampu melampaui Samsung Galaxy S.

Vortex Clock

Vortex Benchmark

Hanya saja, handset CDMA khususnya yang sistem inject agak sedikit ribet untuk konfigurasinya. Apa lagi LG Vortex keluaran Verizon Wireless ini sebagian besar konfigurasinya dihardcoded ke firmware. Artinya beberapa konfigurasi tidak dapat kita ubah nilainya, seperti contohnya konfigurasi untuk konektifitas data dan nama operator.

Tapi dengan sedikit usaha, semuanya akhirnya bisa diakali 😀 untuk nama operator, bisa dilakukan perubahan pada file eri.xml yang ada di dalam file framework-res.apk dan tidak lupa menyesuaikan nilai roaming indicatornya dengan PRL yang digunakan. Hasilnya bisa dilihat seperti pada gambar berikut:

Vortex Framework

Saya merekomendasikan menggunakan aplikasi LG PST (Lab Version) untuk melakukan NAM dan Service Programming untuk handset ini. Karena berdasarkan pengalaman, baik setting NAM, PRL dan Konektivitas Data lebih mudah dan sukses dengan menggunakan aplikasi ini.

Untuk penggunaan sehari-hari, saya menggunakan paket data unlimited dari Telkom Flexi (64 kbps) namun hanya untuk email dan social network saja. Saya menggunakan hotspot di kantor untuk download/upgrade aplikasi dari market.

Daya tahan baterai untuk handset ini juga cukup baik, jika digunakan secara aktif, baterainya bertahan selama 1 hari, sedangkan jika stand by saja, daya tahan baterainya bisa mencapai 2 hari.

Akhir kata, saya pribadi sih cukup puas dengan handset ini. Walaupun sebelumnya sempat menyesal karena keterbatasan yang dimiliki handset ini untuk dimodifikasi lebih jauh, tidak seperti seri LG Optimus yang lainnya.

Untuk spesifikasi lengkap handset ini, bisa anda temukan disini.

Explorasi Android: Bagian II

Explorasi Android: Bagian II

Melanjutkan artikel saya sebelumnya, kali ini saya akan membahas mengenai Samdroid dan “produk” kernel dan library modifikasi yang diberikan oleh komunitas tersebut.

Artikel ini kemungkinan tidak umum, karena ponsel berbasis Android sangat variatif. Samdroid lebih spesifik merupakan basis komunitas pengguna ponsel Android dari produsen Samsung, terutama untuk tipe GALAXY SPICA i5700. Walau pun ada juga thread yang membahas Google Nexus One (HTC) dan GALAXY i7500, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Sehingga forum ini lebih cocok untuk anda yang memiliki ponsel Samsung GALAXY SPICA i5700 (i5700).

Jika anda pemilik ponsel i5700 dan bermaksud mengaktifkan root dalam ponsel anda, ada dua metode yang dapat anda lakukan, yaitu:

  1. Tetap mempertahankan firmware bawaan dan hanya mengubah kernel saja.
  2. Mengubah seluruh partisi system dengan firmware dari Samdroid termasuk kernel.

Dalam artikel sebelumnya, saya memilih cara pertama karena saya ingin mempertahankan firmware bawaan. Namun pada akhirnya saya merombak total seluruh file system dengan firmware Samdroid, karena sudah dilengkapi dengan tools-tools yang memudahkan kita untuk melakukan modifikasi terhadap file system.

Salah satunya Samdroid Tools yang memungkinkan kita untuk mengaktifkan apps2sd (memindahkan aplikasi ke SD) dengan sekali “tap” pada layar :D. Selain itu, Samdroid juga mengeluarkan versi Wireless Tether yang khusus dimodifikasi untuk ponsel i5700. Aplikasi ini digunakan untuk menjadikan ponsel kita sebagai wireless access point (mini hotspot).

Saya sangat menyarankan anda untuk menggunakan cara kedua, namun untuk menambah keberanian anda dalam melakukan modifikasi ini, saya akan memberikan gambaran bahwa jika anda sering berurusan dengan flashing smartphone (atau PDA phone), anda tentu mengenal ada beberapa area yang kita flash. Dan untuk modifikasi ini, anda hanya perlu memodifikasi area PDA saja, yang artinya dapat kita simpulkan bahwa modifikasi ini relatif aman dilakukan.

Saya tidak akan membahas detail dari proses modifikasi ini karena sudah banyak situs dan forum lain yang membahas hal tersebut. Sebaliknya saya akan menjelaskan secara umum mengenai proses yang saya lakukan terhadap ponsel saya, dan saya bersedia memberikan link resource yang anda butuhkan jika anda mengalami kesulitan dalam mengikuti proses yang saya lakukan.

Berikut adalah modifikasi yang saya lakukan terhadap i5700 (Versi firmware awal: I570EDXJC4) milik saya dengan firmware dari Samdroid:

  1. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengaktifkan root dengan kernel LeshaK 2.02. Cara untuk melakukan hal ini sudah banyak dibahas di situs lain, yang saya rekomendasikan adalah di situs ini. Untuk proses ini, saya memerlukan aplikasi Odin (tools dari Samsung yang bocor di internet). Sebagai Linuxer, idealisme saya harus dikorbankan dulu untuk proses awal ini karena saya membutuhkan Microsoft Windows untuk proses flashing :p (Odin hanya berjalan di Windows).
  2. Setelah melewati proses tersebut, saya menggunakan SamdroidMod Kitchen untuk meracik system yang sesuai dengan selera saya :D. Saya menghindari pemakaian experimental komponen pada tools tersebut, dan tetap bertahan di versi kenel 2.05.1 (saya akan bahas alasannya kemudian). Untuk opsi lainnya cuma masalah selera, yang terpenting dari proses ini adalah pemilihan base package dengan kernel saja.
  3. Proses terakhir adalah mengoptimalkan system dengan SAMDROID TURBO. Yang terkenal dari project ini sebenarnya adalah implementasi DalvikVM dari Froyo (2.2) ke Eclair (2.1). Namun karena di beberapa situs disebutkan bahwa kondisi tersebut tidak stabil, saya tidak menyarankan untuk menggunakan FE Libs untuk penggunaan sehari-hari (kecuali jika anda ingin mencobanya sendiri). Saya hanya menggunakan Turbo Kernel dan SamTurboLibs dalam proses ini. Alasan sebelumnya saya tetap bertahan di kernel 2.05.1 adalah karena release terakhir Turbo Kernel pada project ini dibangun diatas kernel LeshaK 2.05.1.

Untuk proses terakhir, saya membutukan proses flashing Turbo Kernel yang memerlukan software Odin. Tetapi karena saya sudah melakukan proses kedua, dalam firmware Samdroid terdapat tools bml_flash yang dapat digunakan untuk melakukan flash kernel dan mengganti logo ketika ponsel anda pertama dihidupkan.

bml_flash terdapat di directory /system/xbin, untuk melakukan flashing kernel atau logo dengan menggunakan tools ini cukup mudah, anda tinggal menempatkan file kernel zImage atau file logo.png ke lokasi di ponsel anda (misalnya /sdcard) lalu kemudian mengeksekusi perintah berikut:

Flash Kernel

/system/xbin/bml_flash boot /sdcard/zImage

Flash Logo

/system/xbin/bml_flash boot3 /sdcard/logo.png

tentu saja anda membutuhkan koneksi ADB (Android Debugger Bridge) yang sudah berjalan dari PC anda untuk melakukan hal tersebut.

Kesimpulan

Saya pribadi cukup puas dengan sistem operasi Android. Karena sifatnya yang terbuka, hal ini memungkinkan kita untuk melakukan modifikasi sesuai selera. Sebuah OS untuk ponsel yang sebelumnya hanya menjadi rahasia vendor ponsel tersebut, dengan Android memungkinkan untuk komunitas pengguna memodifikasi atau bahkan membuat OS alternatif.

Sebagai contoh, komunitas Samdroid sudah mengeluarkan versi alpha dari Froyo (2.2) yang berjalan di i5700. Padahal dari vendornya sendiri (Samsung) belum ada kepastian apakah update ke Froyo akan diberikan atau tidak untuk ponsel tipe i5700.

Revolusi besar ini sangat memungkinkan untuk munculnya OS alternatif untuk ponsel terbuka. Tidak tertutup kemungkinan suatu saat akan lahir turunan dari Android seperti banyaknya turunan Linux pada saat ini.

Explorasi Android: Bagian I

Explorasi Android: Bagian I

Dari sekian banyak pengaruh terhadap diri saya untuk “mencicip” sistem operasi Android di ponsel, pengaruh terakhir datang dari Milisdad dalam komentar yang diberikan pada artikel terakhir saya.

Sering kali juga saya lihat postingan beliau di Twitter mengenai seminar perbandingan antara iPhone dan Android, termasuk beberapa situs di internet juga kerap sekali membandingkan kedua OS tersebut.

Saya sangat tertarik dengan sistem operasi Android, dengan alasan yang sama yang saya pikirkan untuk menggunakan sistem operasi Linux. Saya menyukai Linux dan bahasa pemrograman JAVA, dan Android dibangun diatas kernel Linux juga mirip JAVA karena menggunakan DalvikVM.

Jika pepatah orang dulu mengatakan kalau jodoh nggak kemana :p, ternyata kesempatan untuk memiliki ponsel berbasis Android ini datang juga ^_^, sebagai kompensasinya, saya harus rela “melepas” ponsel IJBO saya yang baru saya “pegang” beberapa saat. Saya berani menukar kedua ponsel tersebut setelah memastikan ada aplikasi SSH Client yang native berjalan di Android (bukan aplikasi JAVA MIDP).

Ponsel Android yang saya pilih adalah Samsung GALAXY SPICA i5700. Ada kebingungan di pasaran (termasuk saya sendiri) bahwa kerap sekali orang menyebut ponsel ini GALAXY.

Samsung I5700 Galaxy Spica

Samsung I5700 Galaxy Spica

Namun jika mengacu ke situs-situs review ponsel, GALAXY SPICA (i5700) dan GALAXY (i7500) merupakan seri yang berbeda. GALAXY SPICA dapat dikatakan sebagai versi lite dari GALAXY. Itulah sebabnya harga ponsel ini relatif dibawah ponsel-ponsel Android yang lain.

ROOTED atau NON-ROOTED

Saya tidak memiliki bayangan sama sekali ketika saya membaca artikel mengenai istilah ROOTED dan perbedaannya dengan standard pabrik NON-ROOTED. Namun setelah mencoba bergabung di komunitas pengguna ponsel Android, baru saya mengerti tujuan mengapa ponsel Android perlu di ROOT.

Android telah dibungkus sedemikian rupa untuk end-user. Dari sisi keamanan dan kemudahan, menggunakan ponsel Android standard serasa menggunakan ponsel lain pada umumnya. Bahkan saya sendiri tidak merasa bahwa ini adalah ponsel Linux.

ROOTED merupakan modifikasi sistem Android agar kita atau aplikasi yang kita pasang dapat menggunakan hak akses sebagai ROOT untuk melakukan akses terhadap system. Sama seperti menggunakan perintah ‘su’ di sistem operasi Linux.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan modifikasi ini, ada yang hanya mengupgrade kernel image menggunakan kernel dari pihak ketiga, ada juga yang menggunakan custom ROM untuk merombak sistem secara keseluruhan. Saya pribadi lebih menyukai cara pertama karena saya lebih suka mempertahankan firmware bawaan Samsung.

Android 2.1 (Eclair) yang digunakan pada ponsel tersebut, dibangun diatas kernel Linux 2.6.29. Modifikasi yang dilakukan untuk mendapatkan akses ROOT adalah dengan mengganti kernel image (bzImage) dan menambah aplikasi pendukung di file system Android.

Untuk anda yang sudah lama mengenal sistem operasi Linux, tentunya anda paham bahwa modifikasi ini tidak berbahaya. Alasannya, karena kita hanya mengganti kernel image dengan versi modifikasi yang dibangun dari source kernel yang sama dengan yang digunakan oleh Samsung. Dan menambahkan beberapa binary executable kedalam file system Linux.

Sayangnya, untuk proses awal modifikasi ini kita masih memerlukan software Odin yang berjalan diatas sistem operasi Windows. Namun jika kita sudah menggunakan versi ROOTED dari LeshaK, untuk update kernel berikutnya bisa langsung dilakukan melalui menu (menyerupai Grub) standard LeshaK kernel.

— Bersambung —

Pintar Ber-Ponsel Pintar

Pintar Ber-Ponsel Pintar

Setelah puas dengan Ponsel Cina yang saya gunakan lebih dari satu tahun (hingga kondisi lapisan keypadnya hancur :p), belakangan ini saya memperoleh keluarga baru gadget untuk menunjang aktivitas saya sehari-hari, yaitu sebuah Ponsel Pintar (smartphone) Samsung OmniaPRO B7320.

Reaksi teman-teman saya beragam setelah mengetahui saya menggunakan smartphone ini, sampai ada yang menyebut saya “murtad” dengan alasan “Linux Geek kok pake Windows Mobile” :p.

Sebelumnya saya memang berencana untuk memiliki sebuah Mobile Internet Device (MID), karena sering kali saya diminta untuk me-remote server di tempat client saya dalam waktu-waktu yang tidak terduga.

Pilihan pertama tentu jatuh pada Netbook, tetapi mengingat situasi yang akan saya hadapi, saya berpikir Netbook pun tidak selalu bisa saya bawa kemana-mana. Oleh karena itulah pada akhirnya pilihannya jatuh ke smartphone.

Apa yang menjadikan smartphone pilihan saya ini begitu spesial? Yang paling utama adalah karena saya memperolehnya dengan harga 1 jutaan disaat harga baru untuk smartphone tersebut masih berkisaran 2,3 juta. Saya mendapatkan barang second dengan kondisi 98% (cuma cacat casing sedikit) dan garansi sisa 7 bulan (cukup fair).

Hal pertama yang saya lakukan adalah upgrade ROM ke versi Windows Mobile 6.5 Standard (WinMo 6.5 STD), hal ini dilakukan karena kebetulan smartphone yang saya dapatkan masih menggunakan ROM 6.1. Saya tidak dapat melakukan upgrade dengan menggunakan aplikasi resmi dari Samsung, namun untungnya ada aplikasi pihak ketiga yang membantu saya dalam proses ini.

Berikutnya saya berkutat dengan bagaimana cara melakukan sinkronisasi antara smartphone saya dan notebook saya untuk data file, kontak, task dan agenda. Ternyata stack untuk proses ini telah lama dikembangkan dengan proyek SynCE. SynCE sudah sangat matang melakukan tugasnya dalam proses sinkronisasi ini, sehingga saya tidak menemukan kendala yang berarti untuk mencapai tujuan saya.

Bahkan diluar dugaan, ternyata proses sinkronisasi kontak dari Evolution ke Outlook Mobile juga mendukung sinkronisasi Contact Pictures.

Sehingga jika anda ingin memasang foto kontak anda, anda bisa melakukannya melalui Evolution atau langsung dari smartphone tersebut.

Trend smartphone saat ini didominasi oleh BlackBerry (BB) dan Android, sehingga peminat untuk Windows Mobile cenderung menurun. Apalagi brand yang pertama merupakan gaya hidup baru masyarakat indonesia. Lihat saja di sekitar anda, ada berapa orang yang menggunakan BB 😀

Namun seharusnya semua itu kembali ke kebutuhan kita sendiri. Saya sebelumnya cukup puas dengan menggunakan Ponsel Cina karena kebutuhan saya adalah menggunakan fitur dual sim card. Dan ketika saya tidak membutuhkan lagi fitur tersebut, berganti ke kebutuhan untuk MID, akhirnya saya berpindah menggunakan smartphone.

Dengan fitur segudang, semua itu bisa diperoleh dengan budget yang minimal 😀 Ingat, anda juga harus Pintar Ber-Ponsel Pintar!

MEDUSA4 Personal – Free 2D/3D CAD for Linux

MEDUSA4 Personal – Free 2D/3D CAD for Linux

Karena kebetulan perusahaan yang sedang saya tangani saat ini bergerak dalam bidang kontraktor sipil, maka kebutuhan akan aplikasi CAD sudah tidak terelakkan lagi.

Memang sangat sulit untuk menemukan aplikasi alternatif untuk AutoCAD di Windows yang bisa memenuhi kebutuhan perusahaan tersebut terlebih lagi jika seluruh sistem di perusahaan dimigrasikan secara total ke Linux.

Salah satu aplikasi CAD yang terkenal di Linux aalah QCAD. Kekurangan yang langsung dirasakan dari aplikasi tersebut adalah fitur yang minim dan tidak adanya dukungan 3D dalam aplikasi tersebut.

Aplikasi lain yang menurut saya wajib dipertimbangkan adalah MEDUSA4 Personal. Walaupun aplikasi ini bukan merupakan aplikasi Open Source, tetapi aplikasi ini Free untuk Personal.

Satu hal yang yang menjadi kesan pertama saya ketika menjalankan aplikasi ini adalah “luar biasa”. Walaupun sebenarnya saya tidak mengerti sama sekali apa yang harus saya lakukan dengan aplikasi CAD tersebut :p

Namun jika dibandingkan dengan QCAD, aplikasi ini terlihat memiliki fitur yang lebih lengkap dan dukungan untuk membaca file format DWG secara langsung. Dan sebagaimana kita tahu, QCAD hanya bisa membaca format DXF.

Namun sayangnya di perusahaan tersebut sangat minim sekali minat tim engineering terhadap aplikasi MEDUSA4 Personal ini. Padahal, besar sekali harapan saya agar mereka bisa menggunakan aplikasi tersebut karena aplikasi ini juga tersedia untuk platform Windows.

Jika saya mengerti prinsip dasar aplikasi CAD, saya akan mencoba aplikasi ini sendiri (seperti halnya ketika saya belajar menggunakan InkScape). Namun sayangnya dari dulu saya belum pernah bersinggungan dengan bidang kerja yang membutuhkan kemampuan saya menggunakan aplikasi semacam ini.

Ada yang berminat untuk mencoba? Peluang yang bisa diraih kemungkinan adalah membuka usaha training (atau les privat) penggunaan aplikasi CAD untuk personal dengan legal :D. Karena permasalahan yang dihadapi saat ini adalah kebanyakan lulusan teknik sipil menggunakan aplikasi CAD ilegal dalam PC-nya :p.

Saya tidak menyinggung aplikasi yang mereka gunakan di tempat mereka bekerja karena tentunya untuk level perusahaan, sudah pasti harus membeli lisensi aplikasi semacam ini.